Jumat, 21 Agustus 2015

MY 7 DAYS FRUITS DIARY : SARAPAN BUAH EKSKLUSIF YANG SERU




Saya termasuk ‘Fruitaholic’. Nge-fans banget ama buah. Kalau di meja ada kue dan buah, saya pasti pilih buah. Hanya saja pola makan buah saya acak-acakan, tanpa aturan dan jadwal. Rencananya sih saya pengin/berniat memperbaiki pola makan buah agar manfaat buahnya lebih nyata/kelihatan di badan. Rencana pertama, saya akan melakukan diet pisang, di  ultah  saya pertengahan Juli tahun ini. Diet pisang itu maksudnya sarapan pisang aja (dan minum air putih).  Ini semacam resolusi, usaha untuk semakin sehat (langsing dan awet muda) di usai saya yang semakin menua.Saya tertarik diet pisang karena baca ini, dan sepertinya memang mudah, aman dan efektif.
 
Sayangnya  ultah saya itu berdekatan dengan mudik lebaran.  Kok rasanya nggak enak saat mudik nggak sarapan tahu gimbal, nasi liwet, sega pecel dan segala macamnya. Okelah, pelaksanaan resolusi ini mundur nunggu balik ke rumah Depok. Bisa ? Bisa sih (asal nggak ada ajakan makan-makan).  Pisang memang buah favorit  kami sekeluarga. Kalau saya sih pisang jenis apa aja suka, tapi kalau si kecil Anggita (6 tahun) cuma mau pisang Sunpride.  Sepertinya semua orang tau deh yang dimaksud pisang Sunpride. Betul, pisang Cavendish yang kuning mulus. Saya tadinya nggak ngerti  kalau itu adalah jenis pisang Ambon, Asli buah nusantara (bukan impor). Saat Fruit Summit di tahun 2013 saya mulai kenal lebih dekat dengan PT Sewu Segar Nusantara, Sunpride produsen sekaligus distributor buah yang terus berinovasi menghasilkan buah Nusantara premium.
Balik ke cerita diet pisang saya ya. Lama kelamaan (padahal  belum ada sebulan) saya kok pengin juga  sarapan yang bervariasi, tapi tetap buah. Saya pikir toh semua buah sepertinya bermanfaat untuk kesehatan. Jadilah saya mencoba ganti-ganti buah buat sarapan. Sekarang saya penganut sarapan buah eksklusif.  Eksklusif itu maksudnya sarapan buah segar tanpa campuran macam-macam, seperti susu, yoghurt, mayonaisse, dan sebagainya. Saya tetap pilih makan buah di pagi hari (sarapan) karena berdasar pola makan sehat alami, seperti  juga pola makan yang dicontohkan Rasulullah SAW, makan buah itu sebaiknya dalam kondisi perut kosong. Tentu saja pilih buah yang matang, manis, berserat dan berair. Ini akan berefek bagus ke pencernaan. Yang udah saya rasakan memang pencernaan/buang air besar saya lancar. Mudah-mudahan pola sarapan ini bisa diikuti anak-anak, biar semua lebih sehat dan saya nggak perlu nyalain kompor sambil  mikir masak apa di pagi yang selalu hiruk pikuk sibuk menjelang 2 krucil sekolah dan suami berangkat kerja.

            Buah apa saja yang sudah mewarnai sarapan saya ? Tadaaa....ini dia “My 7 Days Fruits Diary”

Hari pertama :
Karena saya sedang sedikit batuk/flu, saya memilih sarapan nanas. Nanas ? Beneran ? Itu kan agak asam trus bikin gatal lidah. Ehm, tapi nanas ini punya manfaat keren, berkat kandungan bromelain di dalamnya jadi bisa menekan batuk dan mencairkan lendir juga mengandung vit C yang mencegah flu berlanjut. Memang sih biasanya yang bikin malas makan nanas itu kan ngupasnya, trus kalaupun ada yang udah dikupas, selalu ribet ngasih garam biar lidah nggak gatal. Tenang aja kan ada Nanas Honi Sunpride. Nanas Honi ini relatif berukuran besar, mata sedikit dan tipis, jadi tidak perlu susah payah ngambilin mata nanas sampai bikin bentuk spiral. Lihat aja nih cara ngupas nanas yang sekejab mata. Asyiiik. Rasanya juga manis, segar, renyah, kadar airnya tinggi dan yang pasti kadar calsium oksalatnya rendah jadi nggak bikin gatal. 

Hari ke-2
Teman-teman arisan berencana mau ke rumah ngerayain ultah saya (yang tertunda karena mudik lebaran dan liburan) Di kulkas stock buah melimpah. Maklum lagi heboh awal program sarapan buah eksklusif. Nggak ada salahnya saya keluarin buah-buahan itu. Ada belimbing, salak,apel, kelengkeng, jambu, mangga. Jadi saya tetap sarapan buah eksklusif, aneka buah dikunyah gitu aja. Banyak yang nanyain sambal rujak tapi saya nggak nyediain, nggak kepikiran ngerujak sih awalnya,  xixi. 

Hari ke-3
Pagi, jam 8 bersiap berangkat ke undangan halal bihalal di Bogor. Hari ini sarapan pisang plus bawa pisang buat ganjel perut kalau lapar di jalan. Tinggal cemplungin di tas. Punya persediaan pisang Sunpride kemasan Single, jadi nggak takut penyet dan bikin kotor tas. Kemasan plastiknya udah didesain sedemikian rupa jadi nggak bikin pisang keringatan/rusak. Sarapan buah eksklusif pun bisa berjalan, sampai waktunya makan siang di acara.

Hari ke-4
Ups hari Minggu. Ini hari penuh godaan, karena hanya saya yang ngelakuin sarapan buah di rumah, dan biasanya anak-anak ngajak jalan. Okelah tetap sehat...tetap semangat (hallaaah..apa sih). Apa pun yang terjadi saya tetap sarapan buah. Ambil Pepaya Calina aja. Kupas, potong-potong, segar, sehat, kenyang juga. 

Hari ke-5
Senin itu jadwalnya belajar Tilawati, yang biasanya lanjut makan bareng. Nggak masalah sih, kan kalau siang bebas makan apa aja, asal sarapan paginya buah. Cuma ya, karena pot luck snack dan tuan rumahnya juga nyediain makan besar, jadinya khawatir kalap aja kalau sarapannya nggak kenyang.  Jadi ya sarapan pagi ini pisang Sunpride eh pisang cavendish gedhe, asli bikin kenyang biar makan siangnya dikit (bungkusnya yang banyak, ehk). Sebenarnya nggak cuma bikin kenyang sih. Pisang membuat kita juga senang dan gampang belajar. Ini salah satu manfaat pisang. Manfaat pisang lainnya banyak, Silakan dibaca di sini . Di mana-mana yang namanya belajar itu kedengarannya aja udah susah banget. Ya emang susah sih bagi saya, tapi dibawa enjoy aja, toh itu buat kebaikan diri kita juga.


Hari ke-6
Selasa penuh asa. Sarapannya Guava Crystal dari Sunpride.Sebenarnya ini jambu batu. Kalau orang Jawa bilang jambu klutuk, atau sering juga disebut jambu biji saking banyaknya biji, klutuk-klutuk kalau dimakan. Dulu waktu kecil malas banget makan jambu ini, takut bijinya ketelan dan nanti numbuh. Lama-lama sih cuek aja, saya makan sebiji-bijinya, tapi tetap nggak nyaman karena ada lubang di gigi hingga kadang sakit banget kemasukan biji, ngunyahnya juga jadi nggak asyik. Sayang aja ya buah yang mengandung lycopene (antioksidan pelawan kanker) yang lebih besar dibanding tomat, dan kalium yang lebih tinggi dibanding pisang ini harus tersisih gara-gara ribuan biji kecil2 yang dimiliki.
Nah Sunpride punya solusi, Guava Crystal ini seedless. Renyah, hampir tanpa biji sama sekali. Praktis banget sarapan ini, tanpa harus ngupas, tinggal dipotong-potong, atau kalau masih malas pegang pisau, tinggal digigit langsung. Hmmm...nyam..nyam.

Hari ke-7
Sudah mulai musim mangga tampaknya. Saya senang beli buah saat sedang musimnya. Murah, melimpah.Mangga Harum manis itu benar2 harum dan manis. Pertengahan minggu yang santai, sarapan sambil baca buku. Ini buku yang menginspirasi saya tuk sarapan buah eksklusif, karena begitulah sunnah, pola makan Rasulullah SAW yang seharusnya saya ikuti dan memang dalam penelitian medis terbukti manfaat buah akan efektif bila dikonsumsi saat pencernaan kosong, atau ya itu sarapan. Buah bukan lagi buat pencuci mulut.


Ternyata, bisa juga saya konsisten menerapkan 7 hari sarapan buah eksklusif. Seru ya, Yups, posting ini sekalian mau mengajak teman-teman tuk mengonsumsi buah setiap hari. Yuuk fun & healthy bareng. Indonesia ini kaya buah, jadi sayang aja kalau sampai konsumsi buah kita minim. Buah lokal kita melimpah dan murah. Pilih buah sesuai musim, atau bahkan buah yang ada sepanjang tahun seperti pisang dan pepaya. Yang penting dapat manfaat sehatnya. Fresh every day. Tetap langsing dan awet muda itu bonusnya.


Rabu, 14 Mei 2014

PURNAMA CINTA

Rabu malam, 14 Mei 2014, memandang purnama bareng Anggita (dan mencoba mengabadikannya)
Purnama yang tampak indah dikelilingi sinar itu ternyata pas dilihat ada yang jadi bentuk hati :)



Takjub dan bahagia memandang purnama cinta 
 



Senin, 23 Desember 2013

KERAMIK APIK



Sebelum libur akhir semester, Anggita dapat karya keramik hasil cetakannya. Pas lihat hasilnya cantik banget, jadi nyesel nggak ikutan bikin. Tuh kan, dibilangin juga apa. Kapan lagi coba seru-seruan bikin keramik. Sebenernya bu Teti, kepala sekolah Anggita udah cerita banyak tentang keindahan Rumah keramik plus bakal keramik bikinan anak2 yang akan difinishing, sebelum dibagikan. Hasilnya nanti baguus banget. kata beliau yang saya iyakan dengan anggukan.

Rencananya sih saya juga pengin ikutan bikin pas ngedampingin fieldtrip Anggita ke sana. Entah kenapa kok pas di sana para emak itu pada lebih milih duduk2 menikmati singkong goreng dan jalan-jalan sambil foto2 doang. Jadinya batal deh niat ikut workshop bikin keramik. Halllaaah alesan, xixi padahal saya sih mikir juga bayar 100 ribuan buat beli clay yang cuma seuprit (sekitar 400 gram)

Mahal ? Sebenernya nggak juga kalau lihat hasil dan pengalaman yang didapat. Dulu saya mikir masuk ke Rumah Keramik itu mahal, habis tempatnya kok kelihatan eksklusif banget, trus pas di sana saya nanya ke si mas guide, “Mas, kalau mau masuk ke sini, cuma pengin beli (lihat2) di gallerynya aja bisa nggak sih ?” “Bisa kok, Bu, cuma bayar 10 ribu rupiah aja.” Hah…semurah itu….gubraaaks deh, alamak, kirain tuh setiap masuk bayar 100  ribuan perorang. Betapa kuper bin katronya saya. Dan ternyata tiket masuk itu juga bisa jadi diskon bila ikutan workshopnya. Jadi itungannya ya gratis masuk bila ikut workshop gitu deh
Bayangin aja, saya bolak-balik lewat sini.Lha kami sering main ke mantan tetangga depan rumah yang dulu sering saya titipin Rangga kecil, di Perumahan Tugu Tanah Baru, lokasi rumahnya pas depan2an dengan Rumah Keramik ini, tapi kok ya nggak pernah belok, sekedar nengok dalamnya. Saking jaimnya, nunggu minimal bawa duit 500 ribu buat bikin keramik dan makan di situ :P

Nah kembali ke fieldtripnya Anggita ya…Pas kami para emak selesai tour keliling rumah keramik, saya melihat ke tempat workshop dan tampak Anggita masih duduk anteng dengan 2 kupu2 hasil cetakannya. Teman-temannya sebagian udah cuci tangan dan jalan-jalan.
Sebagai emak yang baik dan perhatian (haiyaah….) saya dekatinlah krucil ini, sambil nanya “Anggita udah selesai ?” Tiba-tiba ada si mas instruktur yang menjawab, “tunggu sebentar ya Bu, tadi ditawarin cetakan lain nggak mau, sebentar saya cetakin ikan dulu. Trus si mas menghilang entah ke mana, dan tadaaa bawa clay yang sudah tercetak bentuk piring ikan. “Nah, ini nanti bisa jadi piring permen.” Sambung mas instruktur.  Anggita masih kalem aja, si mak dalam hati sorak-sorak, pengen sih jingkrak-jingkrak, tapi demi tetap menjaga aura wibawa, si mak ini hanya memunculkan senyum manis dan kata terima kasih.

Bikin keramiknya kayak gimana sih  ? Pasti ngebayanginnya yang pakai alat puter2 kayak di film Ghost ya ? Bukaan…mana bisa krucil bikin serumit itu. Ini model bikin keramik yang simple banget. Cuma dicetak di cetakan gips. Kayak gini nih. Ini bentuk cetakan yang dipilih Anggita, kupu-kupu. 
Ups, Anggita tuh merhatiin penjelasan pastinya sampai nggak lihatin tanah liat yang lagi dicetak.




Kalau mau yang tingkat advance seperti di film itu bisa juga sih, tapi kan perlu clay lebih banyak sekitar  1,5 kg, bayarnya sekitar 350 ribu, 4 jam belajar
Eh tapi, ternyata bikin keramik/nyetak di gips itu gak segampang itu. Emang sih mirip dengan nyetak dengan lilin mainan (play-doh) lah kira-kira, ditekan-tekan doang, tapi pas ngelepasin dari cetakan itu ada  trik tersendiri. Makanya harusnya sih pas udah selesai nyetak para krucil ini segera minta tolong kakak instruktur atau bu guru untuk melepas, karena susah nyopot dari cetakan tanpa rusak.

Jadi setelah clay nya ditekan di cetakan, biar rapi dan rata sisa claynya dipotong pake benang. Buat ngelepasnya /nyopot clay dari cetakan, ambil sedikit clay, kemudian tempelin dipinggir cetakan, kemudian tarik deh dengan arah berlawanan! Nah nariknya itu pakai teknik !!!

Setelah claynya dicetak,  gak langsung dibawa  pulang.  Prosesnya  masih berlanjut sampai jadi keramik.. Butuh waktu 3 minggu sampai keramik itu jadi. Iih.. lama banget yaa. Emang diapain aja sih kok harus nunggu lama gitu?
Jadi setelah dicetak, keramik harus dijemur dulu minimal 3 hari (apalagi kalau musim ujam, bisa sampai seminggu lebih), setelah dijemur, terus diwarnai, dan dimasukin ke oven dengan suhu 1200 derajat celcius (klu gak salah ya) selama 16 jam. Nah kan, bakarnya aja lamaa.  Selesai dibakar itu, keramik gak bisa langsung diambil, harus didinginin dulu didalam oven itu selama 16 jam lagi ! Ehm, tenaang, proses itu bukan kita yang lakukan ya. Kita mah tinggal duduk anteng nunggu hasil jadinya.
Kalau udah lihat prosesnya, kita akan maklum kalau harga keramik itu relatif  mahal  plus tentunya kalau karya seni itu ya harganya tergantung yang bikin xixi, soalnya ada keramik babi seharga 20 juta di galerinya, tapi ada kok yang model bros kecil itu 30 ribuan. Aiiih…Ehm kalau dijual karya Anggita ini harganya berapa ya, hahaha...gak bakalan diijinin sama yang punya, lagian apaan sih, ini kan priceless, keramik kenangan :D




Oh…ya selain bikin keramik, kita bisa menikmati keliling rumah sang Maestro Keramik F Widayanto ini. Luasnya 2 hektar (bener gak ya, nggak nyatet, banyakan bengongnya, jadi info detilnya cari sendiri ya) sampai ke kamar2nya yang karpetnya aja keramik lho !  Memang, tempat ini unik dan asyiik buat foto2. Adem, penuh dengan pohon2 langka, (ada pohon coklat, kayumanis, salam, pisang ungu (jantung pisangnya warnanya beda) trus apa ya, hahaha ketahuan gak nyimak penjelasan guide. Ada juga bale dan kamar yang disewakan. Mau tanya harga nginepnya ? Ya seharga hotel berbintang lah 600 ribu yang bale trus yang kamar sekitar 1,5 juta/malam

Ini foto2 para pendamping yang sibuk keliling eh duduk menikmati camilan. Oh ya kalau ambil paket dapat snack, anak2nya pisang goreng, pendamping singkong goreng plus teh sereh. Enak deh...







Lho mana gallery keramik dan keramik seharga 20 jutanya, trus kok suasana rumah keramik plus pohon-pohonnya malah nggak ada fotonya ?
Sengaja sih biar penasaran dan pada main ke sana  Main yuk...alamatnya sih di Tugu Tanah Baru Depok. Lumayan buat refreshing, lihat yang indah2. Kalau cuma pengen ngadem doang dan foto2 cukup bayar 10 ribu, nambah nyemil pisang goreng  plus minum, bawa 50 ribu cukuplah :D, tapi...ntar pasti nyesel deh, kalau gak nyoba bikin keramik...

Jumat, 23 Agustus 2013

WE’RE CONTESTMANIA : SPORTIF, SMART, HAPPY




Takjub, kata yang mewakili rasa Arin - Murtiyarini, ketua Contest mania. Itu juga yang saya rasakan sebagai anggota contestmania, tentu saja plus  bersyukur, bahagia luar biasa saat akhirnya di tanggal 21 Agustus 2013, Jawa Pos resmi memasang profil Contestmania sebagai salah satu komunitas yang berhasil masuk 15 besar dan berhak maju ke acara Grand Final “Jawa Pos for Her Active & Pro-Active Community Competition.”

Tanpa perlu saya jelaskan panjang lebar, pasti teman-teman yang bergabung di komunitas dan hobi berkompetisi sudah tahu event keren ini, tapi  kayaknya bolehlah saya sedikit nulis tentang kompetisi yang kami ikuti ini.

“Jawa Pos for Her Active & Pro-Active Community Competition.” adalah event keren yang tujuan utamanya ingin menggerakkan komunitas-komunitas perempuan seluruh Indonesia untuk aktif dalam kegiatan internal maupun memberikan sumbangsih bagi lingkungan sekitar. Dengan persyaratan yang relative mudah, , plus iming-iming hadiah spektakulernya, event ini jelas menghebohkan ratusan komunitas perempuan sejak pertama kali dilaunching Januari 2013.

Hadiahnya apa sih, ehm…ini nih :
Hadiah bagi komunitas terbaik pertama, lima orang berangkat liburan ke Las Vegas, AS, plus uang tunai USD 2.500. Juara kedua, liburan ke Hongkong untuk lima orang plus uang tunai USD 2.000. Juara ketiga, jalan-jalan ke Thailand dan uang tunai USD 2.000. Selain itu, masih ada tiga hadiah motor Scoopy untuk kategori khusus, kegiatan sosial terbaik, kegiatan internal paling heboh, dan komunitas teraktif yang paling banyak mengirimkan kegiatan.

Wow...(koprol bolak-balik) ternyata ini event besar, nggak main-main. Hebat juga ya Contestmania bisa masuk 15 besar. Kalau tentang masuk 15 besar itu sih wallahu'alam ya tergantung juri (dan pastinya berkah dari Gusti Allah).

Di mata saya (bukan 'Mata Najwa' lho ya) contestmania ini sebenarnya ya komunitas biasa saja, seperti juga komunitas lainnya. Yang bikin contestmania hebat menurut saya sih formasi contestmania saat ini sangat pas.Anggota yang terbatas, membuat kami bisa lebih memahami, tanpa perlu aturan ketat. Mungkin karena kami tak hanya sehobi tapi juga dekat secara emosi. Ini komunitas plus persahabatan yang membuat kami selalu happy dan bisa kompak. Nah yang bikin saya cinta komunitas ini karena kompak.Entah karena kami anggotanya yang memang sudah sehobi, sehati, para mama yang sudah matang (ehm berasa pisang). Yang pasti karena sang ketua, Mbak Arin -Murtiyarini adalah leader sekaligus manager yang hebat, yang bisa menyatukan kami, mengetahui kekuatan dan kelemahan tiap anggotanya, jeli melihat peluang dan punya semangat berbagi tinggi, hingga bisa membuat kami maju bersama komunitas Contestmania.  

Contestmania memang bukan komunitas besar, bahkan anggotanya nggak sampai puluhan. Contestmania itu komunitas unyu, si kecil yang baru beberapa saat terbentuk, hingga mungkin belum banyak yang kenal, tapi ini komunitas kecil berisi, si kecil cabe rawit yang rasa pedasnya mampu mengalahkan si cabe merah besar (xixi lha kok malah ngomongin cabe sih). Bukan berbangga diri, tapi itulah kami yang dengan happy berusaha terus bersinergi, kompak, aktif mengikuti berbagai kontes di tengah kesibukan kami yang bervariasi. 

Saya suka ngontes itu jelas, meski ternyata jiwa ngontes saya masih berada di level 1, jika dibandingkan para sahabat saya di sini yang mungkin udah berada di level 5.  Nah di Contestmania ini jiwa ngontes saya pelan-pelan merangkak naik dan semoga bisa terus menanjak sampai ke level 5. Kok bisa ? Iyaa...terbukti seperti saat ada kontes Smart Mommy Inspiration yang diadakan oleh Tabloid Nyata. "Ayo, yang Jabodetabek pada ikutan, cepetan kirim ya, 30 pengirim pertama dapat lunchbox, dan 50 peserta nanti akan diundang gathering di Hotel Ritz Carlton Kuningan !" Nah...setelah itu, tuing, muncul komen : "Aku sudah ngirim lho," ...sahut-sahutan." Akhirnya saya pun ngirim, dan Alhamdulillah, selain bisa kopdar dengan anggota contestmania (yang waktu itu beberapa hanya kenal online) saya pun dapat bonus hadiah voucher belanja 2,5 juta, yang cukup bikin saya ternganga (kalau buat Contestmania lainnya sih hadiah segitu biasa kali...)


Contoh lainnya gini, Bu Ketua woro-woro "Ayo, Mbak, ikut contest ini." gampang kok, nggak pakai berat, aku udah menang lho, masih ada beberapa periode lagi, cepetan, mumpung saingannya belum banyak."
Nah, demi baca kata nggak pakai berat, saya pun ikutan, dan Alhamdulillah lagi menang, lumayan dapat voucher Matahari 500 ribu rupiah


Gimana jiwa ngontes saya nggak terpancing dengan provokasi yang begitu.
Bahkan saat si penyakit malas datang, ketika galau menghadang, memandang dan menggumamkan tagline Contestmania mampu membuat saya kembali bersemangat.:
“We’re Contestmania, sportif, smart, happy” ~ “Contests make us smart & happy”-
Sinergi teman sehobi sekaligus sehati itu ternyata berdampak luar biasa, terutama bagi saya pribadi.

Makanya seneng banget saya bisa jadi bagian Contestmania. Dulu nggak terpikir kalau contestmania bakalan terkenal dan sekeren ini. Contesmania ibarat keluarga yang menerima saya apa adanya dan terus mendukung, mengakui dan menghargai eksistensi saya, hingga saya merasa berdaya dan bahagia luar biasa.
Yups, ikut contest bukan semata masalah menang atau kalah, tapi masalah hadiah *eh. Kalah, menang, hadiah itu hanyalah bonus. Bagi saya sendiri, mengikuti suatu kompetisi menjadi salah satu cara biar gak ‘mandek’, gak berhenti berkembang, dan tetap smart.

Balik ke Contestmania. Sebenarnya kami adalah teman maya yang kemudian ‘klik’ dan melanjutkan persahabatan di dunia nyata.

Kalau nama Contestmania disebut mungkin banyak yang mengernyitkan dahi, tapi ketika nama Mbak Arin – Murtiyarini, sang ketua disebut, semua akan serempak manggut-manggut. Yups, Contestmania diketuai oleh seorang mama luar biasa yang serba bisa, dan yang saya suka, kami bukan dianggap sebagai alat untuk mencapai kebesaran pribadi seorang Murtiyarini. Lha tanpa contestmania, nama Arin-Murtiyarini aja udah berkibar kok. Ini murni komunitas persahabatan, tuk saling berbagi dan menyemangati.

Dulu sebelum punya fb, Murtiyarini saya kenal dari tulisannya di majalah. Seringnya sih saya baca ceritanya sebagai mama, tips parenting, karena kebetulan sebagai seorang ibu saya perlu dan harus banyak update tentang pengasuhan anak. Setelah ada fb, kami berteman dan kemudian bisa kopdar, ngeteh bareng. Saat ngeteh bareng itulah mbak Arin nyemplungin saya ke grup keren ini. Tadinya saya ngira grupnya Mbak Arin khas Mama, ternyata lho kok…Contestmania. "Buat seru2an, mbak," katanya (glek kayaknya jiwa ngontes saya sudah terdeteksi, xixi). Dari sini juga saya baru tahu kalau Mbak Arin ini selain nulis parenting bisa nulis apa saja dan hobi berkompetisi

Anggota contestmania itu ya.. ternyata (haha...ternyata lagi) nama yang udah familiar di telinga eh mata saya, karena sering saya baca karyanya (dan bersliweran di fb). Ada Nunung Yuni Anggraini, kebetulan kami sudah pernah kopdar sebelumnya di Event Tango, Kidzania, (setelah tulisan kami menjadi 10 terbaik Weekly Note yang kemudian dibukukan di buku Be Positive), Susan Sriyani, bintang iklan yang sering saya intip tulisan /note fbnya yang keren. Rina Susanti  saya kenal karena tulisan parenting  (saya sering baca artikelnya di majalah juga), Sukimah Yono, aktif di  literasi dan kami pernah menang bareng di audisi penulis buku Asma Nadia Inspirasiku, trus ada Mbak Wien yang gesit, serba bisa dan kreatif abis, Vivien yang baru saya tahu nama fbnya Sofiany Arry, mama tangguh yang rajin nulis juga. Kemudian yang masuk sesudah saya adalah Eka Chandra Lina, mama 3 putri, dosen yang lagi studi S3 tapi jiwa ngontesnya level lima. Pokoknya….asli para mama ini pas menyandang gelar contestmania, apalagi sang Ketua, Murtiyarini adalah ratu kontes dengan sederet prestasi.

Ehm, kalau nyeritain prestasi dan pengalaman ngontes kami bisa berhari-hari kali….Jadi saya mau upload foto2 kopdar kami yang di Jabodetabek aja ah…Kumpul bareng contestmania itu (baik ngumpul resmi di acara kontes atau ngumpul santai merayakan kemenangan plus merencanakan langkah ngontes selanjutnya) bikin saya makin terbuka wawasannya dan terutama bikin makin bahagia...





Nah kalau yang di bawah ini foto saya dan mbak Arin -Murtiyarini, sang ketua Contestmania (yang kebetulan kok nama depan kami sama2 Murti) saat acara Sunpride Fruit Summit 2013 di Rumah Maroko, Menteng, dan Contestmania dapat penghargaan juara pertama Most-voted Story untuk komunitas.


 

Ahahai momen yang sungguh bikin bahagia. Kami  juga masih menunggu fruit party  pertengahan September nanti, hadiah kemenangan Contestmania di  Sunpride Fruit Summit 2013 tersebut, dan Alhamdulllah di sela-sela itu dapat kejutan menjadi 15 besar finalis dan akan menghadiri acara Grand Final dari Jawa Pos for Her di acara grand final “Jawa Pos For Her Active & Pro-active Community Competition." Ini akan jadi ajang kopdar akbar di luar Jabodetabek. Membayangkannya saja sudah membangkitkan semangat dan bahagia luar biasa. Kelak mimpi-mimpi pribadi kami akan  lebih mengkristal menjadi mimpi komunal, karena ke depannya kami semua ingin bersama mengibarkan bendera komunitas kami, Contestmania tercinta.

Tentu saja dengan kekompakan kami ini semoga kelak akan berujung pada semangat untuk terus bergerak melakukan yang terbaik hingga bisa menginspirasi dan bisa menjadi mercu suar yang memandu arah para perempuan lain untuk aktif dalam komunitas. Berharap juga dari active (melakukan 1 kegiatan/ gerakan) internal, contestmania bisa jadi pro-active (melahirkan solusi suatu masalah perempuan/ bisa ikut mengubah lingkungan ke arah yang lebih baik).

Serasi dengan tujuan utama program “Jawa Pos For Her Active & Pro-active Community” yang ingin menggerakkan komunitas-komunitas perempuan seluruh Indonesia untuk aktif dalam kegiatan internal maupun memberikan sumbangsih bagi lingkungan sekitar.



Rabu, 31 Juli 2013

CERI CERIA


Sudah dua minggu Anggita bersekolah TK. TK yang sama dengan si Mas, Rangga, 7 tahun lalu. Pohon ceri favorit kami masih ada. Ya, pohon ceri yang dulu selalu menggoda Rangga dan saya untuk berhenti, karena buah-buah kecilnya yang merah dan rasanya manis.
         Bertahun lalu, saat ada kesempatan mengantar dan menjemput Rangga, saya selalu berhenti di bawah pohon ceri, mendongak dan mencari-cari ceri merah yang ada.
Saat Rangga kecil, sayalah yang berusaha meraih buah ceri merah itu, sementara Rangga menunggu sambil terus menunjuk dan memotivasi saya untuk bisa meraihnya. Ia akan bersorak dan tertawa ceria saat saya berhasil. Buah merah yang berisi beberapa ribu biji super kecil, halus, putih kekuningan; terbenam dalam daging dan sari buah yang terasa manis itu sangat disukai Rangga. Ketika Rangga semakin besar, dia pun berusaha untuk memetiknya sendiri, bisa dengan meloncat untuk meraihnya, atau bahkan memanjatnya. Saya mengawasinya dari bawah sambil mengarahkan dan menyemangati. Pohon ini juga yang bikin Rangga senang sekolah waktu TK, Kalau dia agak malas berangkat, cukup diiming-imingi “nanti kita metik ceri lagi” dan yuhuu melesatlah si mas ini ke sekolah. Rangga dan teman-teman cowoknya suka memetik buah ceri saat istirahat atau pulang sekolah. Berkat pohon ceri juga Rangga jadi bisa memanjat pohon, dan psst...inilah pohon yang pertama kali saya panjat di usia kepala empat demi menyenangkan Rangga


Teman main Rangga yang mengenalkan ceri pada Rangga. "Mama, lihat aku tadi dikasih buah ceri sama Ninu" katanya sambil memperlihatkan buah merah kecil itu. Buah ceri ? saya mengernyit dan tersenyum, oh, ini sih kersen, kok ceri sih...Ups, ternyata di Depok, anak-anak menyebut kersen dengan nama ceri.

Selasa, 28 Mei 2013

I'M THE EXPLORER


Kemarin pas kembali berkelana, eh menjelajah di area perumahan, sampailah kami (saya & Anggita) di tempat saya berpose sebagai The Explorer. Mendadak saya pengin ketawa ngakak *hush, xixi asli ngikik ingat  obrolan maya beberapa hari lalu saat seorang teman ngomongin tentang event Do More. Nah yang kreatif itu kayak Mbak Murti, perannya explorer, fotonya sambil guling-guling di rumput, ahaha padahal pose keren si Mak ini kan sebatas ngumpet di belakang bunga alang-alang :p


Selasa, 14 Mei 2013

WWW (WHISTLE WHILE WORK)



Sabtu tanggal 11  Mei yang lalu, ada event MOVA di Perumahanku. Pas acara tersebut dengan penuh PD (percaya diri) aku tampil ke depan mendampingi Chef Hugo memasak.
Geli juga sebenarnya karena pendamping Chef ini bukan seorang yang pintar dan suka masak, tapi justru dua orang Ibu yang nggak bisa dan hampir nggak pernah masak.